1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>

Keunggulan MTs Surya Buana

PDFPrintE-mail

1.    FDS (full day school)
MTs Surya Buana Malang adalah madrasah/sekolah setingkat SMP yang pertama sekali menggunakan sistem full day school semenjak mulai berdiri tahun 1999. Sistem ini hanya digunakan di sekolah-sekolah unggulan. Siswa belajar di sekolah setiap hari ± selama 8 jam (06.45 WIB – 15.30 WIB) termasuk rehat (istirahat, shalat dhuha, shalat dhuhur, makan siang, dan shalat ashar berjama’ah).
2.    SKK (sistem kelas kecil)
Sistem kelas kecil ini membatasi jumlah murid yaitu 24 – 30 siswa per kelas di MTs Surya Buana. Tujuan dari sistem ini adalah untuk mengoptimalkan proses pembelajaran karena jumlah murid yang sedikit pada satu kelas diharapkan mudah untuk mengembangkan intelegensi, kreativitas, serta akhlak siswa secara baik dan terarah. Selain itu, sistem kelas kecil diharapkan dapat menciptakan perhatian guru terhadap pola belajar siswa secara efektif dan maksimal misal dengan cara melakukan pendekatan individual yang menghargai murid sebagai individu yang berbeda satu dengan lainnya. 
3.    SRB (sistem rapor bulanan)
Tujuan dari diadakannya sistem raport bulanan ini adalah untuk memantau kemajuan prestasi siswa. Raport bulanan disusun berdasarkan prestasi akademis siswa pada bulan yang bersangkutan. Raport bulanan dilihat lebih efektiv dibandingkan dengan raport semester, terutama dalam menindaklanjuti masalah-masalah yang terjadi selama proses pembelajaran di sekolah dan tentu saja kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Diagnosisi secara dini akan memberikan solusi yang lebih memadai daripada sistem semester. Keuntungan raport bulanan untuk wali murid adalah mereka dapat mengetahui grafik perkembangan prestasi putra/putrinya yang dapat digunakan sebagai masukan untuk dibahas bersama-sama dengan pihak sekolah.
4.    SPA (sistem penasehat akademik)
Sistem ini mengacu pada pendapat bahwa siswa lebih banyak membutuhkan penasehat selama siswa tersebut belajar. Setiap siswa akan didampingi oleh penasehat akademis (PA). PA ini akan menangani 5-6 siswa dalam satu kelas. Fungsi penasehat akademis adalah sebagai guru, konselor, orang tua, dan teman bagi siswa terutama dalam menghadapi masalah-masalah akademis, misal kesulitan mengejakan pekerjaan rumah, kesulitan belajar kelompok, kesulitan memahami penjelasan guru, dan sebagainya.
5.    SPK (sistem point kedisiplinan)
Pelaksanaan sistem point kedisiplinan yaitu dengan cara mencatat seluruh perilaku siswa baik pelanggaran tata tertib ataupun prestasi yang dicapai dalam buku rekaman perilaku siswa. Hukuman atas pelanggaran tata tertib madrasah/sekolah berdasarkan point yang diperoleh siswa selama melakukan pelanggaran. Point setiap pelanggaran berbeda-beda sesuai dengan jenis pelanggarannya. Pelanggaran atas tata tertib madrasah/sekolah beserta tindak lanjutnya akan langsung diberitahukan kepada orang tua/wali murid bersamaan dengan pembagian raport lengkap dengan point pelanggaran siswa yang bersangkutan.
6.    STB (sistem tentor sebaya)
Alasan mengapa diadakannya sistem ini karena adakalanya siswa merasa lebih enak diajari teman daripada oleh guru. Pengaplikasian sistem ini yaitu siswa-siswa yang memiliki kemampuan lebih dalam belajar akan mengajari siswa-siswa lain yang memiliki kemampuan kurang. Oleh karena itu akan lebih efektif apabila siswa dibagi dalam kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Wujud nyata dari sistem ini antara lain adalah bentuk seminar sederhana yang dilakukan di kelas. Setiap kelompok diberi tugas mempelajari pokok bahasan tertentu, lalu membuat kertas kerja, dan mempresentasikan di depan kelas. Ketua, pemateri, moderator, notulen, dan peserta seminar seluruhnya adalah murid-murid. Peran guru hanya sebagai peninjau yang memberi kesimpulan dan pembetulan bila ada kesalahan. 
7.    STO (sistem try out)
Uji coba atau dalam bahasa asing yang biasa dikenal dengan try out di MTs Surya Buana dilakukan seminggu sekali yaitu pada hari Sabtu. Try out yang diselenggarakan madrasah ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dan dalam rangka persipan Ujian Nasional (UN). Try Out ini dilakukan serentak mulai kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Pelajaran yang diujicobakan antara lain: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA.
8.    SSE (sistem studi empiris)
Siswa yang terus menerus belajar secara klasikal di kelas bisa dilanda kejemuan panjang. Oleh sebab itu, MTs Surya Buana melaksanakan system studi empiris yang merupakan kunjungan ilmiah ke tempat-tempat yang sesuai dengan topic pembelajaran. Tempat-tempat tersebut antara lain: Museum Brawijaya, Industri Keramik, Industri Tempe, Jawa Pos, Stasiun TV JTV, dll. Pelaksanaan studi empiris ini minimal satu kali dalam satu bulan. Sedangkan pada akhir tahun pelajaran, SEE dilaksanakan sebagai kunjungan proyek vital dalam bentuk Studi Tour.
9.   SO (sistem outbound)
Kegiatan outbound akan mendapatkan manfaat yang beragam. Mulai dari menambah pengalaman baru. Memacu rasa keberanian. Membagun rasa kebersamaan. Komunikasi yang efektif antarsesama. Bertindak sesuai dengan situasi dan kondisi. Memahami setiap kelebihan maupun kekurangan yang ada pada dirinya maupun orang lain. Dapat menimbulkan rasa saling menghargai dalam setiap keputusan. Selain itu juga outbound bermanfaat sebagai proses berlatih memacu cara berpikir seseorang agar selalu sistematis.
10.   SBB (sistem bimbingan belajar)
MTs Surya Buana sejak berdiri telah melaksanakan kerjasama dengan lembaga bimbingan belajar Bela Cita (salah satu LBB yang resmi terdaftar di Depdiknas kota Malang) guna memacu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah soal-soal pelajaran.  
11. Program Bilingual
Program bilingual dimasukkan dalam muatan lokal. Sedangkan pembinaannya dilakukan setiap hari dengan menekankan praktik langsung.
12.   Konsep Triple ”R” dalam pembelajaran
Konsep pembinaan sekolah alam bilingual MTs Surya Buana Malang pengembangan dasarnya yaitu Triple ”R”. Berikut penjelasan/gambaran tentang Triple ”R”

Dalam pembelajarannya, siswa dikondisikan untuk bernalar dengan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan, antara lain:

-  Apa yang sedang terjadi?

-  Bagaimana terjadinya?

-  Mengapa itu bisa terjadi?

-  Bagaimana kalau dirubah? Apa yang terjadi?

 

Penjelasan siswa didiskripsikan dalam suatu tulisan yang semi ilmiah. Dalam hal ini siswa berusaha menemukan jawaban dari berbagai gejala alam. Setelah siswa mampu menjelaskan gejala-gejala yang ada dengan semi ilmiah, siswa diarahkan untuk melakukan research dengan menggunakan metode ilmiah yang sederhana:

  • Menangkap gejala
  • Menduga/prediksi
  • Membuktikan (mengadakan percobaan)
  • Menyimpulkan sifat-sifat dari suatu gejala
  • Mengembangkan

Siswa mulai diarahkan untuk membuat laporan sederhana (bisa secara kualitatif atau kuantitatif). Dengan bekerja secara ilmiah (research), siswa akan mampu melakukan tadhabur alam yang lebih luas, sehingga bisa menemukan sifat-sifat ilmiah yang terjadi di alam. Dengan menemukan sifat-sifat ilmiah di alam, diharapkan siswa bisa lebih mengagumi ciptaan Illahi dan meningkatkan keimanannya.

Selanjutnya siswa juga dikondisikan untuk mempelajari keagungan ciptaan Allah yang lain, dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dalam penalaran.

 

 

CONTOH 1: Bidang Science

Mendesain pesawat dari kertas

 

Langkah-langkah mengembangkan nalar:

  1. Siswa diminta untuk mendesain pesawat-pesawatan dari kertas
  2. Siswa diminta menerbangkan pesawatnya
  3. Diajukan pertanyaan:
  • Apa yang sedang terjadi? Pesawatnya bisa terbang
  • Bagaimana pesawat itu terbang?
  • Mengapa pesawat bisa terbang?
  • Bagaimana kalau sayapnya dirubah? Apa yang terjadi?
  • Bagaimana kalau bahannya pesawat dirubah? Apa yang terjadi?
  • Dst

4. Siswa mendiskripsikan apa yang sedang dipikirkan

Langkah-langkah Research:

  1. Siswa menuliskan sifat-sifat/gejala-gejala yang ada pada masalah pesawat, misalnya pesawat bias terbang karena ada sayapnya, kertasnya ringan, dan adanya keseimbangan
  2. Siswa menduga (membuat hipotesis):  kalau sayapnya berubah bentuknya, maka kemampuan terbangnya juga akan berubah.
  3. Mengadakan percobaan dengan mengubah berbagai bentuk sayap
  4. Menyimpulkan dari hasil percobaannya, bahwa kalau sayapnya semakin sempit, maka pesawat mudah jatuh
  5. Pengembangan dari hasil percobaannya: bagaimana kalau kertasnya saya ganti yang agak tebal? Apa yang terjadi?
  6. dst.

Langkah-langkah religiusnya

  1. Terbangnya pesawat kertas tadi karena kertas ditahan oleh udara, sehingga tidak langsung jatuh. Udara itu memiliki sifat-sifat yang unik: mengandung oksigen yang dapat dihirup oleh manusia dan sangat dibutuhkan oleh manusia. Tanpa oksigen manusia tidak bisa hidup. Nyatalah bahwa Allah telah memberikan sifat-sifat kepada sesuatu dengan sempurna.
  2. Siswa menghayati ciptaan Allah, sehingga keimanannya meningkat.

 

CONTOH 2: Bidang Mathematics

Bilangan jari-jari

Langkah-langkah mengembangkan nalar

  1. Siswa diminta untuk menuliskan bilangan ganjil di masing-masing ruas jari-jarinya:

2. Siswa diminta memindahkan bilangan-bilangan itu ke kotak sesuai dengan banyaknya kolom dan baris

 

1

7

13

19

25

3

9

15

21

27

5

11

17

2

29

3. Siswa diminta untuk mengamati bilangan 9, 15, dan 21. Bila dilihat menyilang, bagaimana hubungan:

  • bilangan  9 dengan 1 dan 17?
  • bilangan 9 dengan  7 dan 11?
  • bilangan 9 dengan 13 dan 5?
  • bilangan 9 dengan 15 dan 3?

4. Namai bilangan 9 sebagai bilangan bintang
5. Pikirkan bilangan bintang yang lain.
6. Cari keunikan sifat-sifat dari bilangan tangan yang lain

Langkah-langkah Research:

  1. Siswa  menuliskan sifat-sifat dari bilangan bintang
  2. Siswa  menduga bahwa bilangan 9 sebagai separoh dari jumlah bilangan sampingnya.
  3. Siswa mengadakan percobaan dengan melakukan operasi jumlah
  4. Siswa menyelidiki kenapa bisa terjadi demikian? Bagaimana kalau isinya bilangan genap?

Langkah-langkah Religius:

  1. Ternyata tangan manusia memiliki keunikan dikaitkan dengan bilangan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah ternyata memberikan rahasia-rahasia tertentu terhadap ciptaannya. Karena itu kita harus senantiasa berpikir rahasia apa yang ada pada ciptaan Allah.
  2. Siswa merenungkan dan menghayati ciptaan Allah yang lain dikaitkan dengan matematika, misalnya laba-laba, kepiting, dan sebagainya

OUTCOME DARI TRIPLE ”R”

  1. Siswa terbiasa berpikir kritis dan kreatif, sehingga rasa ingin tahu siswa tentang sesuatu yang baru disalurkan dengan cara-cara ilmiah
  2. Siswa akan cenderung tergerak untuk menyelidiki suatu.
  3. Siswa terbiasa belajar menemukan. Sehingga sekolah dirasakan cukup berarti dan menyenangkan bagi kehidupannya
  4. Tertanamkannya sifat mengagumi keagungan Allah.

Diharapkan saat siswa telah usai bekerja secara ilmiah, maka mereka akan mampu melakukan tadabur alam yang lebih luas, sehingga dapat menemukan sifat-sifat ilmiah yang terjadi di alam sekitar dan terciptalah rasa syukur terhadap karunia Tuhan YME sehingga mampu meningkatkan keimanan siswa. Proses selanjutnya adalah siswa dikondisikan untuk mempelajari keagungan ciptaan Allah yang lain dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dalam penalaran. (ar)